Tampilkan postingan dengan label maarif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maarif. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Maret 2010

Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan & Kemanusiaan

Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan & Kemanusiaan

"Sebagai guru bangsa, Prof. A. Syafii Maarif menyajikan argumen yang begitu kuat dan komprehensif tentang pentingnya mengembangkan keislaman di tanah air dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Tahniah atas masterpiece ini." —Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya. Sebagai agama-sejarah, Islam telah, sedang, dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Tujuan Islam adalah mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan. Namun, sering kali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gamang menghadapi perubahan dan gagal mengemban misinya menuntun peradaban.

Buku ini memuat gagasan reflektif dari seorang cendekiawan Muslim dan guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif. Refleksi ini lahir dari keprihatinan bahwa umat Islam, sebagai penduduk mayoritas Nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah senafas agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif.

Inilah tantangan sekaligus peluang yang coba dijawab buku ini. Jika keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan telah senafas dalam jiwa, pikiran, dan tindakan umat Muslim Indonesia, Islam Indonesia akan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa. Sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat, yang memberikan keadilan, keamanan, dan perlindungan kepada semua pendudu k Nusantara. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin dan menolak kemiskinan sehingga berhasil dihalau dari negeri ini.

Di tengah keringnya karya cendekiawan Muslim yang menawarkan kesegaran wacana dan solusi, buku ini tampil menawarkan pemikiran yang utuh, mendalam, kreatif, dan berpijak pada pemahaman sejarah yang kokoh tentang isu-isu penting yang menentukan identitas Muslim Indonesia. Sebuah masterpiece yang harus dibaca siapa pun—dari agama, etnis, maupun pandangan politik mana pun—yang menaruh kepedulian terhadap masa depan bangsa Indonesia.

“Saya sarankan kepada Mendiknasagar karya Ahmad Syafii Maarif ini dijadikan buku wajib di sekolah, setidaknya sampai tingkat SMA. Karya ini tidak konvensional. Sangat penting bagi keindonesiaan.” —Dr. Anhar Gonggong, Sejarawan LIPI

Titik-Titik Kisar di Perjalananku

Buku ini merekam “perantauan” seorang insan Minangkabau, putra Indonesia, dan intelektual Muslim. Bukan hanya perantauan lahiriah, tetapi perantauan intelektual dan spiritual. Tanpa henti berusaha melintasi batas-batas, mencoba merengkuh cita-cita “alam terkembang menjadi guru”. Batas-batas itu bisa berupa geografi ataupun fanatisme mazhab yang menghalangi manusia mengembangkan dirinya dan mewujudkan potensinya.

Titik-Titik Kisar di Perjalananku

Inilah perjalanan hidup Ahmad Syafii Maarif. Dengan bahasa khas, ia menelusuri kembali jejak-jejak perjalanannya melalui berbagai “titik kisar”. Masa kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Hari-hari menuntut ilmu di Yogyakarta hingga Chicago. Perjalanannya bersama Muhammadiyah hingga mendapat amanah menakhkodai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia itu mengarungi masa reformasi yang penuh gejolak. Langkahnya tak berhenti di situ. Buya Syafii berusaha menembus sekat-sekat di antara umat manusia, merengkuh semua golongan untuk bersama mewujudkan nilai pluralisme, kebersamaan, dan semangat saling memahami.

Autobiografi ini mengajarkan kesederhanaan hidup, konsistensi, independensi,moralitas adiluhung dan pergumulan panjang pencarian kebenaran.Buya Syafii bukan hanya milik Muhammadiyah dan umat Islam; dia adalah milik bangsa. —Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah