Tampilkan postingan dengan label komaruddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komaruddin. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Maret 2010

Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial

Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial

Prediksi para ilmuwan Barat yang menyatakan bahwa agama formal (organized religion) akan lenyap, atau setidaknya akan menjadi urusan pribadi, ketika iptek dan filsafat semakin berkembang, ternyata tidak terbukti. Sebaliknya, dewasa ini sedang terjadi proses artikulasi peran agama (formal) dalam berbagai jalur sosial, politik, budaya, ekonomi, bahkan dalam teknologi.

Tapi sungguh membingungkan, ekspresi dan artikulasi peran agama tersebut justru melahirkan suasana mencekam, tidak ramah dan selalu mengundang konflik dan permusuhan.Agama formal akan tetap ada dan selalu dibutuhkan oleh manusia, tetapi ekspresi dan artikulasi perannya seperti terjadi dewasa ini bukanlah ekspresi dan artikulasi perannya yang terjadi. Agama pada hakikatnya mengandung ajaran yang menawarkan jalan kesucian, keselamatan dan perdamaian serta kebajikan bagi manusia. Agama diturunkan sebagai salah satu bukti dari kasih sayang Tuhan untuk manusia, agar manusia memiliki petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus, yang penuh keadilan, keharmonisan, dan kesejahteraan.

Agama formal sebagai suatu pilihan pada "jalan" keselamatan umat manusia, juga hendaknya selalu ditarik dan dihubungkan dengan kebajikan dan kemuliaan badi (perennial wisdom) tersebut, dan tidak malah terdistorsi dan tertutupi oleh gerakan pseudo agama.Bicara tentang prinsip-pinsip yang menjadi "kalimantun sawa" (ajaran yang sama) bagi agama-agama yang seolah-olah hanya berkisar pada ramah dunia ilangiti, buku ini juga menampilkan kekuatan pengubah ekspresi dan artikulasi peran agama yang sering bertolak-belakang dengan tujuan hakiki agama itu sendiri.

Psikologi Ibadah: Menyibak Arti Menjadi Hamba dan Mitra Allah di Bumi

Psikologi Ibadah: Menyibak Arti Menjadi Hamba dan Mitra Allah di  Bumi

Dalam diri kita terdapat cahaya suci (nurani) yang senantiasa ingin menatap Yang Mahacahaya (Tuhan). Karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian serta kebahagiaan yang paling prima. Dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan fitrah (natur) manusia yang paling dalam.

Agama hadir, tutur buku ini, untuk mendampingi manusia supaya mereka tidak salah dalam mengembangkan fitrah (bakat bawaan)-nya itu. Rangkaian ibadah merupakan kurikulum suci yang sengaja dirancang Tuhan Yang Mahakasih untuk memelihara kesucian dan keagungan ruhani kita. Dalam bahasa Alquran, agama laksana cahaya yang mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan terang. Ia juga bagaikan curahan air yang memberikan kesejukan dan kehidupan.

Secara renyah tapi mendalam, buku ini mengulas tiga tahapan seorang mukmin dalam mendekat kepada Allah—Sumber segala kehidupan: ta‘alluq (berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah); takhalluq, secara sadar meneladani sifat-sifat-Nya; dan tahaqquq, tumbuh menjadi transmitter (pemancar) sifat-sifat-Nya yang mulia. Melalui tiga tahapan ini, seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Seorang ‘abdullâh (hamba Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini.

Reinventing Indonesia : Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa

Reinventing Indonesia : Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa

Setelah satu dekade melewati Era Reformasi, bangsa Indonesia masih seperti tertatih-tatih mengarungi sejarahnya,. Meski sepertinya lepas dari ancaman disintegrasi yang begitu ditakutkan setelah tumbangnya pemerintah Orde Baru, bangsa ini terus dirundung masalah: konflik antaretnis yang memakan korban, ekonomi yang tak kunjung membaik, bencana alam yang beruntun, situasi politik yang bising tapi tak merakyat, dan lain-lain. Kesejahteraan rakyat yang menjadi cita-cita di seberang “jembetan emas” kemerdekaan Indonesia tampak makin sukai dicapai.

Reinventing Indonesia bermaksud melepaskan dari belenggu pandangan kekinian dan jangka pendek, serta mencoba menggagas kembali secara lebih positif masa depan Indonesia. Meskipun sebagian membahas masalah kekinian, tetapi semangat yang hendak dibangun adalah refleksi masa depan bangsa.
Terlebih lagi, tahun 2008 adalah seabad Kebangkitan Nasional Indonesia serta delapan dekade Sumpah Pemuda, dua tonggak penting dalam pembentukan bangsa Indonesia, upaya menggagas kembali ideal-ideal yang dibayangkan oleh para pendiri bangsa menjadi makin penting. Dengan kata lain, buku ini diniatkan untuk menyumbang pikiran untuk menemukan kembali masa depan bangsa.

Manuver Politik Ulama: Tafsir Kepemimpinan Islam dan Dialektika Ulama? Negara

Manuver Politik Ulama: Tafsir Kepemimpinan Islam dan Dialektika  Ulama? Negara

Baik pada tingkat gagasan maupun praksis, kekuatan Islam di lndonesia hari-hari terakhir ini sedang berjalan memasuki lorong-lorong politik yang licin dan penuh jebakan. Dari pemilu ke pemilu, drama Islam politik terulang tanpa bisa dielakkan, tanpa bisa menghindari dahsyatnya godaan dan kutukan kekuasaan. Dari rezim ke rezim, pertarungan atas nama Islam berputar tanpa skenario baru, tanpa pemain debutan yang brilian, tanpa kejayaan yang elegan.

Para ulama dan kiai yang sebelumnya konsisten dan sibuk mengurus "dalam negeri" pesantren dan umat tiba-tiba menjadi selebriti politik. Ormas Islam, ulama, dan kiai banyak yang tergoda ikut merebut posisi, diperebutkan, bahkan terkadang tampak terseret untuk memasuki gelanggang pertarungan politik yang lebih luas. Mereka berpolitik dan men-cemplungkan diri dalam dunia yang penuh manuver dan intrik.

Menggali kembali ide dan wawasan bagaimana posisi Islam dan apa peran negara, buku ini berangkat untuk mengeksplorasi tiga varian penting. Pertama, makna agama dan bagaimana posisi ulama. Kedua, mempertanyakan secara kritis peran umat. Ketiga, menawarkan reposisi makna dan fungsi negara-bangsa.

Ditulis cendekiawan Muslim senior dari Paramadina bersama pengamat sosial-politik muda dari Nusantara Centre, buku ini akan memberi penyadaran dan pandangan kritis atas fenomena manuver politik ulama yang tak pernah berhenti hingga akhir 2004 ini. Sebuah buku yang direkomendasikan bagi mereka yang peduli pada masa depan ulama dan umat Islam Indonesia di masa-masa mendatang.

Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan

Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan

Rutinitas itu ibarat pisau bermata dua. Satu sisi aktivitas hidup yang sudah rutin itu mudah dijalani, tidak memerlukan pemikiran dan persiapan serius, dan semuanya akan berlangsung normal seperti biasanya. Namun, sesungguhnya kita mesti mewaspadai aktivitas yang sudah berjalan rutin serta mekanis bagaikan mesin karena kebiasaan yang sudah mapan akan membuat hati dan pikiran tumpul, kehilangan daya kreatif dan reflektifnya.

Dalam bahasa psikologi, hati-hati ketika Anda sudah merasa aman bersembunyi di balik tembok comfort zone yang terbentuk oleh rutinitas karena yang sesungguhnya terjadi adalah Anda sudah terjebak dan terbelenggu dalam rutinitas yang membuat energi dan cahaya kehidupan kian redup, yang membuat seseorang tidak mampu lagi melihat perspektif hidup secara lebih luas, lebih dalam, lebih menyeluruh, dan lebih indah. Mereka yang tak mampu keluar dari tembok rutinitas yang membelenggu, sulit untuk bisa bergabung menikmati festival kehidupan bersama semesta.

Buku ini merupakan himpunan catatan dan refleksi Komaruddin Hidayat terhadap fenomena sehari-hari, yang oleh orang lain mungkin dianggap hal yang biasa dan sepele, tapi baginya ternyata memiliki makna yang dalam sehingga akan memperkaya batin. Buku ini sangat cocok dibaca oleh para eksekutif yang karena sibuk kadang kala tidak sempat merenung dan memberi makna kesibukan mereka kecuali seberapa besar menghasilkan nilai tambah secara materi. Oleh media massa, Komaruddin Hidayat sering disebut sebagai intelektual muslim moderat yang tulisan-tulisannya selalu ditunggu oleh komunitas penggermarnya.

250 Wisdoms: Membuka Mata, Menangkap Makna

250 Wisdoms: Membuka Mata, Menangkap Makna

Melalui serangkaian kata-kata bijak, penulis buku bestseller ini mengajak kita untuk memilih jalan kebahagiaan melalui hidup yang bermakna. Memburu harta dan jabatan tidak terlarang. Justru, kita harus mengejarnya. Namun, jadikan harta dan jabatan itu untuk membuat hidup kita bermakna. Caranya? Anda bisa temukan dengan menelusuri satu demi satu ungkapan-ungkapan bijak cendikiawan muslim yang dikenal sebagai penulis dan pembicara dengan tutur kata yang indah sekaligus dalam ini.

Politik Panjat Pinang

Politik Panjat Pinang

Buku ini diberi judul Politik Panjat Pinang: Di Mana Peran Agama? Diharapkan buku ini bisa merajut jarak atau kesengajaan antara kehidupan politik dan moral agama atau bahkan bisa menghilangkan jarak. Artinya, semua tindakan dan kebijakan politik tidak bisa dibenarkan, jika keluar dari moralitas universal yang juga diajarkan oleh agama. Realitas sosial-politik yang cenderung seperti perilaku lomba panjat pinang ketika menyambut acara peringatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus terjadi karena agama tidak dipahami substansinya, yakni nilai-nilai dasarnya. Agama, bahkan seringkali dipahami sebagai sesuatu yang serba formal, kaku, keras dan tidak mengarah pada misi agama yang sejatinya.

Berdamai dengan Kematian

Berdamai dengan Kematian

Bila ketakutan diganti dengan optimisme maka kematian akan mampu kita tempatkan seperti teman bagi kehidupan. Untuk itulah kita perlu berdamai dengan kematian.

Bila itu bisa kita lakukan, ajal pun akan kita songsong dengan senyuman. Saat malaikat pencabut nyawa datang, kita tak sungkan untuk mengucapkan “Assalamu''alaikum ya Izrail. Silakan engkau ambil nyawaku.”

Buku saudara Komaruddin Hidayat ini, menyimpan banyak pesan optimistik untuk menjemput kematian.”
Haidar Bagir, penulis buku bestseller Buku Saku Tasawuf

“Sebuah buku yang mengajak kita berdamai dengan sebuah kepastian (kematian) melalui jalan bersalaman dengan kehidupan yang tidak pasti.”
Gobin Vasdev, penutur kebahagiaan

Tiga Kamar Paling Favorit

TERDAPAT tiga kamar, ruang atau bilik yang amat vital dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu kamar tidur, kamar mandi, dan kamar makan.

Mungkin karena aktivitas hidup sering dijalani secara rutin layaknya sebuah mesin otomatis, kita tidak sempat mengambil jarak untuk merenung dan memberi makna betapa besar fungsi ketiga kamar itu. Mari sekilas kita renungkan satu per satu. Bagi pasangan suami-istri khususnya, tempat tidur merupakan ruang untuk saling mengenal secara dekat, tak ada batas antara keduanya.

Orang yang tidurnya suka mendengkur, misalnya, tidak bisa menyembunyikannya. Pasangan hidup kita juga akan kenal secara dekat melalui ruang ini, utamanya bagaimana kebiasaan dan gaya tidurnya? Lebih jauh dan lebih dalam lagi adalah menyangkut perilaku seksual. Makanya kamar tidur merupakan inti dan ruang terdalam dari bangunan rumah kita.

Di situlah seseorang ingin mendapatkan relaksasi dan kebahagiaan bersama pasangan hidupnya sehingga jika suasana tempat tidur tidak nyaman dan membahagiakan, dampaknya akan merembet ke mana-mana. Betapa tidur itu suatu nikmat dan anugerah yang teramat mahal, saya pernah mengalaminya ketika mata ini sulit sekali disuruh tidur, yang berlangsung sekira seminggu.

Kala itu akibat sulit tidur, beban hidup terasa amat berat. Dunia berputar tanpa henti, sangat melelahkan. Sindrom jet lag itu terjadi sepulang dari Saint Petersburg, Rusia. Di kota ini saya menyaksikan apa yang dikenal sebagai white night, pada jam dua belas malam pun masih tampak terang sehingga dapat melihat jarum jam tangan karena cahaya matahari.

Rupanya perubahan cuaca itu berpengaruh pada metabolisme tubuh, jam badan terpengaruh, sehingga sulit tidur setiba di Tanah Air. Kala itu saya sangat mendamba untuk merasakan kantuk dan tidur. Saya jadi sangat tersadar bahwa tidur itu nikmat Tuhan yang teramat mewah. Demikianlah, aktivitas tidur dan beragam agenda lain di kamar tidur itu sangat menentukan kualitas hidup kita.

Televisi, buku, laptop, dan perangkat salat tidak pernah absen dari ruang tidur saya. Bagaimana dengan kamar mandi? Di sini ada kebahagiaan lain yang ditawarkan. Bayangkan, bagaimana rasanya dan akibatnya andaikan kita mengalami susah buang air besar maupun kecil? Di kamar mandi ini pula kita merasakan betapa segarnya ketika tubuh mendapat siraman air tawar.

Tubuh bugar kembali, muncul rasa lega setelah badan dibersihkan sehingga percaya diri ketika ketemu teman. Di kamar mandi ini pula kita menemukan diri yang telanjang, ketika berbagai aksesori pakaian bermerek dilepas, mengingatkan waktu terlahir yang tidak berpakaian dan nanti ketika mati dikubur ke tanah juga hanya mengenakan tutup sekadarnya. Seseorang bisa merenungkan jati dirinya sewaktu sendiri di kamar mandi.

Wajah asli seseorang akan terlihat ketika beraktivitas di kamar mandi. Kamar yang lain adalah ruang makan, yang menawarkan kenikmatan lidah, kenikmatan yang berbeda dari yang didapat di ruang tidur dan ruang mandi. Di ruang makan kehangatan dan keintiman sebuah keluarga juga terpelihara dan terbangun.

Di ruang ini tidak semata kebutuhan fisik terpenuhi, melainkan juga kebutuhan emosi berkumpul dan berbincang ringan bersama keluarga dalam suasana yang cair merupakan bunga-bunga kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu sebaiknya dihindarkan pertengkaran di ruang makan karena akan menghilangkan kenikmatan rezeki yang terhidang.

Sungguh tidak etis seseorang yang mencela rezeki yang sudah terhidang di ruang makan karena sesungguhnya menyakiti sekian banyak orang yang telah terlibat dan berjasa mengantarkan sampai makanan itu berada di atas meja. Demikianlah, setiap hari kita berurusan dengan tiga macam kamar yang masing-masing memberikan kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri. Pertanyaannya, kalau kita sudah memperoleh pemenuhan dan kenikmatan dari ketiganya, untuk aktivitas apakah selanjutnya?

Tanpa tujuan dan makna hidup yang mulia, sungguh rendah kualitas hidup kita, tak lebih hanya makan, tidur, dan buang kotoran. Beruntunglah, agama lalu mengajarkan, setiap masuk kamar dan melakukan aktivitas di dalamnya diingatkan untuk selalu berdoa agar kita dapat mensyukuri nikmat kehidupan yang bermakna dan bermanfaat untuk sesamanya.

Saya sendiri sering memperoleh inspirasi untuk menulis ketika berada di kamar mandi. Juga merasa khusyuk berdoa dan mensyukuri hidup sembari merasakan segarnya guyuran air di kamar mandi. Begitu pula setiap malam hendak tidur, pikiran dan hati terkesiap betapa hari cepat berlalu, lalu menghitung-hitung amal kebajikan apa yang telah saya perbuat di hari itu.

Malu sekali kepada Tuhan, ternyata diri saya tidak mampu mensyukuri anugerah hidup dengan memperbanyak amal kebajikan. Ketika hidup diisi dengan perilaku destruktif dan penuh semangat berburu barang haram lewat korupsi, misalnya, betapa ruginya hidup ini. Betapa rendahnya kualitas hidup kita.(*)

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah