Tampilkan postingan dengan label zaprulkhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zaprulkhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Maret 2010

Dekonstruksi Teologi Islam

Oleh: Zaprulkhan MSI, Dosen Tetap STAIN Abdurrahman Siddik


AKIDAH merupakan komponen psikologis, bukan uraian teoritis. Akidah tidak membahas sesuatu, melainkan mengarahkan perilaku, pendorong tindakan, dan pembangkit aktivitas yang menyatukan niat dan mengejawantahkan tujuan. Hari ini, titik sentral perhatian ilmu tauhid telah berubah: dari sifat Tuhan dan perbuatan-Nya menuju bumi kaum Muslim dan sumber kekayaannya, kemerdekaan, peradaban, dan kesatuan mereka. Itulah yang dinamakan tauhid yang dinamis, tauhid yang hidup, yakni mengubah realitas menjelma sesuatu yang ideal, dan mengubah sesuatu yang ideal menjelma sesuatu yang membumi.

Statemen di atas digulirkan oleh Hassan Hanafi, salah seorang ilmuwan besar Muslim yang hidup di Mesir, dalam Min al-Aqidah ila al-Tsawrah, Dari Akidah Menuju Revolusi. Frase tersebut mencerminkan kegelisahan Hanafi terhadap spektrum pemikiran Islam yang telah terlalu lama mengalami stagnasi. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Hanafi menawarkan sebuah proyek pembaruan holistik di bawah payung at-Turats wa at-Tajdid, Tradisi dan Modernisasi dengan tiga agenda utama yang saling berinteraksi secara dialektis.

Pertama, melakukan rekonstruksi tradisi Islam dengan interpretasi kritis dan kritik sejarah yang tercermin dalam agenda apresiasi kita terhadap khazanah klasik (mawqifuna min at-turats al-qadim). Kedua, menetapkan kembali batas-batas kultural Barat melalui pendekatan kritis yang mencerminkan sikap kita terhadap peradaban Barat (mawqifuna min al-gharb). Ketiga, upaya membangun pembacaan kontekstual-fungsional terhadap Al-Quran yang mampu membebaskan umat Islam dari keterpurukannya yang merefleksikan sikap kita terhadap realitas (mawqifuna min al-waqi’).

Berhubungan dengan agenda pertama, Hanafi melakukan dekonstruksi sekaligus rekonstruksi terhadap teologi klasik yang dipelopori oleh Imam Asy’ari. Secara historis-sosiologis, Asy’ari telah melakukan ijtihad dengan mengkonstruksi akidah, misalnya sifat duapuluh. Jadi akidah tersebut merupakan kreasi kreatif Asy’ari dalam menghadapi tantangan zaman berupa pemikiran Hellenisme yang bercorak ateistik, menafikan Tuhan dalam realitas kehidupan umat manusia. Itulah alasannya semua formulasi akidah Asy’ari bermuara ketuhanan, melangit, dan spiritual, sehingga teologi Asy’ariyah disebut juga dengan teologi teosentrisme.

Pada konteks historis era klasik, tentu saja Asy’ari sangat berjasa, sebab ia telah menyelamatkan keyakinan sebagian kaum Muslim yang tengah gelisah digempur falsafah Hellenisme yang menafikan Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia. Secara individual, dalam bilik-bilik spiritual kehidupan seorang Muslim, teologi Asy’ari tetap relevan untuk memperkokoh keyakinan terhadap eksistensi Tuhan. Namun dalam konteks hari ini secara praksis-sosial, relevansi teologi teosentrisme Asy’ari ini mulai dipertanyakan.

Dalam perspektif Hanafi, teologi klasik di atas tidak lagi membumi sehingga ia mengajukan teologi yang bercorak antroposentrisme. Tujuannya untuk menjadikan teologi tidak sekadar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia. Karena itulah, gagasan-gagasan Hanafi berusaha mentransformasikan teologi tradisional yang bersifat teosentris menuju antroposentris, dari Tuhan menuju manusia (bumi), dari tekstual kepada kontekstual, dari teori kepada tindakan, dan dari takdir menuju kehendak bebas.

Berikut ini akan dipaparkan operasionalisasi teologi antroposentrisme Hanafi terhadap sifat-sifat Tuhan, seperti Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatul lil Hawadits, Qiyamuh binafsih, dan wahdaniyah. Wujud, menurut Hanafi, tidak lagi menjelaskan wujud Tuhan, karena Tuhan tidak memerlukan pengakuan. Tanpa manusia, Tuhan tetap wujud. Makna rekonstruktif wujud di sini adalah tajribah wujudiyah pada manusia, yakni tuntutan pada umat Islam untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya di tengah-tengah percaturan global.

Qidam, berarti pengalaman kesejarahan yang mengacu pada akar-akar keberadaan manusia di dalam sejarah. Qidam merupakan modal pengalaman dan pengetahuan kesejarahan yang digunakan untuk menatap realitas dan masa depan, sehingga tidak akan terjatuh lagi dalam kesesatan, taqlid buta, dan kesalahan. Sedangkan Baqa’, bermakna tuntutan pada manusia untuk membuat dirinya tidak cepat rusak atau fana, dengan memperbanyak melakukan hal-hal yang konstruktif dalam perbuatan maupun pemikiran, dan menjauhi tindakan yang bisa
mempercepat kerusakan di muka bumi. Dengan kata lain, baqa’ adalah ajakan pada manusia untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan dan alam, serta ajakan agar manusia mampu meninggalkan karya-karya besar yang bersifat monumental.

Selanjutnya mukhalafatul lil Hadits, berbeda dengan yang lain, bermakna tuntutan agar umat manusia mampu menunjukkan esistensinaya secara mandiri dan berani tampil beda, tidak mengekor atau taqlid pada pemikiran dan budaya orang lain. Qiyamuh binafsih adalah deskripsi tentang titik pijak dan gerakan yang dilakukan secara terencana dan dengan penuh kesadaran untuk mencapai sebuah tujuan akhir, sesuai dengan segala potensi dan kemampuan diri.

Begitupun Wahdaniyah, bermakna keesaan, bukan merujuk pada keesaan Tuhan dari kegandaan (syirk) yang diarahkan pada paham tinitas ataupun politheisme, tetapi lebih mengarah pada ekperimentasi kemanusiaan.
Wahdaniyah adalah pengamalan umum kemanusiaan tentang kesatuan; kesatuan tujuan, kesatuan kelas, kesatuan nasib, kesatuan tanah air, kesatuan kebusdayaan dan kesatuan kemanusiaan.

Melalui pembacaan teologi antroposentris ini, sekali lagi Hanafi bukan bermaksud menafikan teologi klasik yang bercorak teosentris. Ia tetap menghargai teologi teosentris tersebut, namun Hanafi juga ingin melampauinya dengan pemaknaan baru yang lebih kontekstual-fungsional dan kompatibel dengan kebutuhan kaum Muslim hari ini dalam menghadapi pelbagai masalah aktual kemanusiaan, seperti kebodohan, imperialisme, kemiskinan, keterbelakangan, demokrasi, kemajuan, dan keadilan. Terlebih lagi dalam tataran akademik di perguruan tinggi, kaum intelektual, ilmuwan, dan cendekiawan semestinya mampu melakukan pembacaan baru terhadap teologi Islam sehingga mampu menjawab puspa ragam problematika kaum Muslim secara konkrit.

Pada titik inilah, fungsi paling signifikan teologi, dalam pandangan Hanafi, adalah memerangi kebodohan, kepapaan, kejumudan, dan keterbelakangan umat Islam terutama kelompok ekonomi yang lemah dalam strata sosial sehingga bisa mengubah kondisi mereka dari stagnan menuju dinamis, dari bawahan menjadi pemimpin, dari yang terlupakan menjelma sang panglima peradaban. Inilah yang dinamakan oleh Hanafi sebagai tauhid yang praktis, tauhid yang dinamis, tauhid yang hidup. Itulah yang dinamakan akidah yang revolusioner.

Makna Tahun Baru Hijriyah

Oleh: Zaprulkhan MSi, Dosen STAIN Abdurrahman Siddik
edisi: 19/Dec/2009 wib

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung; dan barangsiapa yang keadaan hari ini sama dengan hari kemarin, maka dialah orang yang merugi”(Hadits).

TANPA suara kereta waktu terus bergulir membawa kita dari milenium kedua memasuki milenium ketiga, dari abad duapuluh memasuki abad duasatu, dari tahun lalu memasuki tahun ini, dari bulan Dzulhijjah ke bulan Muharram. Dentang kedatangan tahun baru Hijriyah bergema.

Hadist Nabi di atas mengingatkan kita betapa pentingnya kesadaran tentang dimensi waktu. Pertanyaannya, kapankah seseorang mampu menatap betapa berharganya nilai kehadiran sang waktu secara tepat, akurat, dan jernih?

Dalam kubangan rutinitas, lazimnya kebanyakan kita lengah terhadap putaran sang waktu. Dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, hingga putaran tahun ke tahun, waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Semuanya bergulir secara otomatis apa adanya menuju tahun berikutnya. Namun ketika momen-momen besar, seperti tahun baru hadir menyapa kita, seakan-akan kita terhenyak sadar betapa berharganya waktu dan betapa miskinnya makna yang telah kita rajut selama setahun silam.

Untuk melihat objektivitas waktu, izinkan saya meminjam analisis filosofis dua filsuf Perancis dan Jerman terkenal yaitu Henry Bergson dan Martin Heidegger. Menurut Bergson, ada dua macam waktu. Pertama, waktu kuantitatif yang berhubungan dengan ruang, waktu yang dapat diukur dan dibagi-bagi. Dalam konsep ini, waktu diklasifikasi ke dalam satuan-satuan yang homogen, seperti milenium, abad, dasawarsa, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik. Inilah waktu yang berada pada tataran dimensi objektif-fisis.

Dalam istilah Perancisnya, Bergson menyebutnya sebagai temps, waktu yang digunakan secara umum dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Nah, pengalaman kita saat bersentuhan dengan waktu kuantitatif ini dinamakan pengalaman fenomenal, yakni pengalaman kita yang banal dalam kebiasaan hidup sehari-hari. Pengalaman jenis ini nyaris dilakoni oleh kebanyakan manusia umumnya.

Kedua, waktu kualitatif yang tidak berhubungan dengan ruang (tempat), bersifat kontinuitas dan mengalir terus-menerus tak terbagi. Waktu jenis ini terkait dengan perasaan dan kesadaran, aspek psikologis manusia. Inilah waktu yang berada pada wilayah subjektif-psikologis. Bergson menamakan waktu ini dengan duree, yang berarti lamanya, yang digunakan untuk manusia secara pribadi-pribadi. Pengalaman kita tatkala bersentuhan dengan waktu kualitataif tersebut dinamakan pengalaman eksistensial, yakni pengalaman yang dirasakan oleh aspek mental, emosional, bahkan ranah sukma spiritual kita yang terdalam.

Mendekati penjelasan Bergson, menurut Heidegger ada dua macam waktu: waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu objektif merupakan waktu yang digunakan oleh kronometer, alat pengukur waktu, seperti arloji, kalender dan berbagai petunjuk waktu secara umum. Sedangkan waktu subjektif adalah waktu yang dialami oleh orang perorang secara individual. Jika waktu objektif berada di luar sana yang dirasakan sama oleh manusia secara umum, maka waktu secara subjektif berada di dalam sini, yang dirasakan secara unik oleh setiap pribadi dan berbeda antara seorang dengan orang yang lain.

Waktu sehari semalam dalam pandangan mayoritas orang secara objektif berisi dua puluh empat jam, namun durasi waktu itu terasa bagaikan dua puluh empat menit bagi sepasang kekasih yang sedang berkencan di bawah payung asmara. Bagi orang-orang yang berada di tengah-tengah pesta waktu dua belas jam terasa begitu cepatnya. Tapi bagi orang yang sedang sekarat diserang penyakit kronis waktu itu sungguh-sungguh terasa sangat lama.

Fakta yang mungkin sering kita alami adalah waktu lima jam sangat berbeda antara Anda yang menunggu dengan saya yang sedang ditunggu. Waktu lima jam itu terasa sangat lama bagi Anda namun terasa biasa saja bagi saya. Padahal ukuran waktu sehari semalam, dua belas jam, atau pun lima jam itu, secara matematis tidak ada bedanya, waktu itu bergulir secara objektif di mana pun. Albert Einstein melukiskan pengalaman eksistensial ini secara kontradiktif: “Jika dua jam bersama gadis yang baik, orang merasa dua menit; namun jika dua menit duduk di atas open panas, orang merasa dua jam.”

Dalam konteks inilah, momen besar tahun baru yang kita rasakan tidak boleh hanya berhenti pada kesadaran jernih semata dalam melihat berjalannya roda waktu secara perlahan-lahan, melainkan harus bermuara pada pertanyaan introspektif-kontemplatif: Apakah aku telah mengukir waktu-waktuku sebelum ini dengan aneka kebajikan dan pengabdian atau justru dengan keburukan dan kedurhakaan? Apakah bentangan usia yang telah kulalui selama ini sudah aku renda dengan puspa ragam kearifan dan ketaatan atau malah aku rajut dengan berbagai kelalaian dan kemaksiatan?

Tahun baru Islam kali ini mesti menghadirkan kegelisahan eksistensial semacam itu. Mengapa demikian? Karena umur manusia merupakan modal yang setiap saat selalu berkurang dan akan sia-sia bahkan membawa celaka apabila tidak diinvestasikan dalam pengabdian kepada Dzat Yang Maha Memiliki waktu. Waktu setahun atau sebulan, kegiatan sehari atau hanya beberapa jam, bahkan satu detik nafas yang baru saja kita hembuskan tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. Kita tidak bisa menarik kembali momen itu untuk hadir sekarang.

Itu artinya setiap waktu, umur (modal) kita senantiasa berkurang. Sudah berapa banyakkah modal (baca umur) yang kita keluarkan dalam arena kehidupan selama ini? Sepuluh tahun, dua puluh, tiga puluh, atau sudah lima puluh tahun lebih kita mengarungi lautan waktu kita? Persoalannya, apakah modal-modal yang kita keluarkan selama ini akan membawa keberuntungan (pahala) atau justru membuahkan kerugian (siksa)? Bukankah sebanyak apapun modal yang kita tanam, sejauh itu pula buah kebahagiaan atau kesengsaraan yang pasti akan kita tuai suatu saat kelak?

Dalam terang perspektif inilah, mengikuti kriteria teladan ideal kita Rasulullah, tahun baru Hijriyyah kali ini mengajak kita untuk menghargai kehadiran sang waktu. Kalau hari-hari kita sekarang sama dengan hari kemarin, maka kita menjadi orang yang merugi (maqfun); namun kalau hari-hari kita sekarang lebih baik ketimbang hari kemarin, maka kita menjelma orang-orang yang beruntung (roobih). Dengan kata lain, Nabi kita berpesan: Today must be better than yesterday and tomorrow must be better than today.***

Ketika Agama Menjadi Sumber Bencana

Oleh: Zaprulkhan MSI, Dosen STAIN Syaikh Abdurahman Siddik

Dalam setiap jantung agama terdapat sumber-sumber autentik yang bisa memberikan kontribusi secara positif bagi pembangunan masyarakat dunia
JUDUL artikel di atas terinspirasi oleh karya pakar perbandingan Agama di Universitas Wake Forest, Charles Kimball yang berjudul When Religion Become Evil.

Meskipun judul buku tersebut sangat provokatif, namun Kimball tidak menyalahkan satu agama pun sebagai sumber kekerasan atau kejahatan. Kimball bahkan mengakui bahwa secara intrinsik setiap agama merupakan sumber pembawa kedamaian, kebajikan, toleransi, kerja sama, dan cinta kasih antar sesama umat manusia di bawah payung besar yang bernama kemanusiaan dan ketuhanan.

Namun secara historis-sosiologis, Kimball melihat pula bahwa doktrin-doktrin agama yang bersifat kudus dan sakral seringkali disalahpahami dan dibajak demi kepentingan orang-orang yang picik dalam memandang agama.

Setiap agama yang sejatinya berwajah sejuk dan damai, justru menjelma menjadi kebencian, permusuhan, kekerasan, dan peperangan. Kalau demikian, kapankah wajah agama yang sejuk dan damai menjelma menjadi permusuhan dan kekerasan? Dengan meminjam istilah Kimball secara langsung, kapankah agama berubah menjadi jahat (become evil)? Mari kita renungkan lima faktor yang bisa menyebabkan agama berubah menjadi bencana di tengah-tengah isu kekerasan, pelecehan, bahkan terorisme atas nama spiritualitas atau agama yang sedang melanda bangsa kita hari ini.

Pertama, bila penganut suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai satu-satunya kebenaran mutlak dan membawa klaim tersebut kepada penganut-penganut agama lain dan menafikan kebenaran yang terkandung dalam agama lain. Tentu saja setiap pemeluk agama boleh mengklaim kebenaran mutlak agama mereka masing-masing. Namun kebenaran mutlak ini tidak boleh dibawa keluar terhadap penganut lain, sebab klaim ini akan mengakibatkan clash, benturan antar setiap penganut agama.

Menyikapi hal tersebut, sebagian cendekiawan merumuskan sebuah konsep yang disebut relativisme eksternal. Yakni setiap pemeluk agama secara personal dan dalam komunitas agamanya masing-masing boleh mengklaim kebenaran absolut agama mereka.

Tetapi klaim absolut ini tidak boleh diterapkan keluar ketika berhadapan dengan pemeluk agama lain. Dengan kata lain, relativisme eksternal merupakan salah satu strategi kerukunan antar umat beragama dimana secara internal kita bebas mengumbar klaim absolutisme agama, namun dalam kelompok agama lain kita merelatifkan pandangan tersebut agar tidak terjadi bentrokan.

Kedua, kepatuhan buta terhadap pemimpin keagamaan. Setiap agama memang memiliki pemimpin keagamaan yang menjadi pembimbing sekaligus teladan masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki wawasan yang cukup tentang agamanya.

Namun agama yang benar-benar autentik selalu menganjurkan untuk menggunakan intelek dan kebebasan setiap pemeluknya dalam menjalankan agamanya. Sebab dalam dunia kontemporer, banyak terjadi kasus kepatuhan buta kepada pemimpin agama yang menyebabkan tragedi kemanusiaan yang amat memilukan.

Bunuh diri massal yang dilakukan 914 orang pengikut gerakan keagamaan Peoples Temple pimpinan Jim Jones di Amerika Utara, Gerakan Aum Shinrikyo yang menebarkan senjata kimia beracun yang mematikan di bawah pimpinan Asahara Shoko di Jepang pada tahun 1995, dan gerakan keagamaan David Koresh yang mengesahkan hubungan seksual dengan semua wanita pengikutnya di bawah komando Vernon Howell pada tahun 1990-an, merupakan segelintir contoh tentang kepatuhan buta kepada pemimpin agama yang membuahkan tindakan tragis.

Dengan alasan ini, Kimball memperingatkan supaya berhati-hati terhadap gerakan agama yang bertentangan dengan akal sehat dan menuntut para pengikutnya untuk melakukan ketaatan buta terhadap para pemimpin karismatik mereka.

Ketiga, mendambakan zaman ideal dan bertekad merealisasikan zaman keemasan tersebut ke dalam konteks hari ini. Setiap agama memang mengajarkan sebuah idealisme bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok mesti lebih baik daripada hari ini.

Konsep ini merupakan kerinduan tentang sesuatu yang ideal dan mesti diperjuangkan terus menerus tanpa henti. Namun ketika visi tentang zaman ideal ini diimplementasikan dalam bentuk praktik-praktik komunal yang paling benar dan menyalahkan praktik-praktik yang ada selama ini, maka bencana tampaknya tinggal menunggu waktu.

Idealisme itu biasanya mendorong para penganut agama untuk mendirikan sebuah negara agama atau negara teokratis. Contoh konkritnya, rezim Taliban di Afganistan yang kejam terhadap warganya sendiri demi ketaatan terhadap syariat Islam, atau ide negara Yahudi seperti dicetuskan Rabi Mei Kahane yang konsekuensinya harus mengusir warga Arab dari daerah Judea dan Samaria.

Dalam The Power of Now, Eckhart Tolle melukiskan idealisme semu ini dengan indah: This is a chilling example of how belief in a future heaven creates a present hell; sebuah contoh yang mengerikan betapa keyakinan terhadap suatu surga di masa depan justru menciptakan neraka di masa kini.

Keempat dan terakhir, jika pemeluk agama telah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diyakininya dan perang suci atas nama agama diikrarkan, saat itulah agama menjadi bencana.

Dalam era kalsik, kita bisa menemukan contoh tragis ini ketika Paus Urban II menyerukan ekspedisi pada tahun 1095-1099 M yang kemudian dikenal dengan perang salib pertama sehingga terjadi pembantaian 40.000 kaum Yahudi dan Muslim secara biadab atas nama agama. Dalam konteks awal milenium ketiga ini, kita juga bisa menemukan terorisme modern dalam tragedi 11 September 2001, yang memakan begitu banyak korban tak bersalah.

Salah satu solusinya menurut Kimball, para penganut agama perlu menoleh kepada pengalaman Mahatma Gandhi yang mampu memimpin suatu revolusi nirkekerasan melawan kekuasaan kolonial Inggris.

Gandhi mempunyai tujuan yang jelas dan sesuai dengan ajaran agamanya. Namun dalam merealisasikan tujuan tersebut, ia tidak pernah menafikan kelompok manapun. Ia malah mengajak kelompok lain untuk membantu kelompoknya dalam mengejar tujuannya yang mulia. Dengan demikian, Gandhi tidak pernah mengubah tujuan menjadi sarana dan memutlakan sarana menjadi tujuan dengan mengorbankan pihak lain.

Melihat semua fenomena di atas, bagaimanapun juga dalam setiap jantung agama terdapat sumber-sumber autentik yang bisa memberikan kontribusi secara positif bagi pembangunan masyarakat dunia. Karena itulah, agama perlu terus menggali tradisinya dan menemukan kebijaksanaan yang mampu mengusahakan kedamaian dan rekonsiliasi, bukannya perang dan permusuhan.

Akhirnya kearifan itu harus disemaikan bukan hanya dalam koteks kemanusiaan yang bersifat lokal, melainkan dalam konteks global dan plural. Sehingga agama bukan sebagai bencana tetapi tetap menjadi sumber mata air kedamaian universal umat manusia. (*)

Substansi Makna Takwa

Oleh: Zaprulkhan MSI, Dosen STAIN Bangka Belitung

Substansi makna takwa itu secara global mempunyai dua dimensi: dimensi pertama berkaitan dengan kehidupan duniawi dan dimensi kedua berkaitan dengan kehidupan ukhrawi.

DALAM terminologi agama kita, barangkali tidak ada istilah yang lebih akrab bagi kebanyakan kita ketimbang istilah takwa. Namun boleh jadi pemahaman kita tentang takwa kurang tepat atau tidak lengkap. Kata ‘takwa’ secara etimologis berasal dari bahasa Arab; waqo-yaqi-wiqoyah yang berarti menjaga, memelihara, atau menghindar dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan. Perintah untuk bertakwa ini dalam Al-Quran terulang sebanyak 69 kali.

Perintah ini umumnya terhadap Allah dan ada juga perintah bertakwa dari api neraka serta hari pembalasan. Menurut sebagian mufasir, perintah kepada Allah dengan redaksi ittaqullah, dimana antara kata ittaqu dan Allah harus disisipi kata siksa atau sanksi dan kata-kata yang semakna dengannya sehingga perintah bertakwa kepada Allah berarti perintah untuk berlindung dari siksa-Nya atau sanksi-sanksi hukum-Nya.

Dalam perspektif Muhammad Abduh, siksa atau sanksi Allah ada dua macam yaitu siksa di dunia dan siksa di akhirat. Siksa di dunia terjadi akibat pelanggaran terhadap segala hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan, termasuk hukum-hukum alam (sunnatullah) dan kemasyarakatan yang sudah ditentukan-Nya. Sementara siksa di akhirat kelak sebagai akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat-Nya secara luas termasuk ketentuan-ketentuan ritual praktis.

Ketika seseorang tidak mengindahkan hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan di dunia ini, pasti konsekuensi logisnya ia akan mendapat sanksi duniawi. Orang yang terlalu banyak makan atau makan makanan kotor, ia akan sakit. Orang yang malas atau tidak mau bekerja padahal dia mampu, maka ia akan hidup miskin. Orang yang malas belajar, padahal pintu pelajaran terbuka, maka ia akan menjadi bodoh. Sejauh mana pelanggarannya, sejauh itu pula sanksi Allah akan diberikan. Semakin besar dan luas pelanggaran yang dilakukan, maka semakin besar dan luas sanksi yang akan diterimanya. Sebuah bangsa yang masyarakatnya mayoritas malas belajar, tidak giat bekerja dan tidak kreatif, akibatnya pasti bangsa itu akan menjadi bangsa yang bodoh, miskin, dan terbelakang.

Sakit, bodoh, miskin, dan terbelakang ini merupakan sanksi-sanksi Allah yang bersifat duniawi karena pelanggaran terhadap hukum-hukum-Nya yang bersifat duniawi pula. Dan sanksi yang bersifat duniawi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kualitas keimanan atau ibadah ritual seseorang. Seorang Muslim boleh jadi rajin salat lima waktu, bahkan rajin tahajud, tapi kalau malas belajar, ia akan tetap bodoh. Seorang Muslim mungkin rajin puasa sunnah dan menjalankan ibadah ritual lainnya, namun bila tidak giat bekerja, ia tidak akan kaya-raya, dan tetap menjadi orang miskin. Ada juga orang yang ingin meraih kesuksesan duniawi dengan rajin berdoa dan menjauhi maksiat, tetapi tidak berusaha mengikuti jalan-jalan sunnah kausalitas-Nya dan rute-rute duniawi yang mengantarkan menuju kesuksesan, maka konsekuensinya ia akan gagal.

Sebaliknya contoh ekstremnya, jika seorang ahli maksiat tapi rajin belajar, ia akan menjadi orang pintar. Walaupun dia orang zalim, tapi jika giat bekerja, tekun, dan kreatif, tentu saja akan menjadi orang yang kaya raya. Bahkan meskipun sebuah bangsa yang “kafir” namun jika semangat mereka tinggi, kerja keras, disiplin, kreatif, dan inovatif, pasti bangsa itu akan mengalami kemajuan dan sukses.

Jadi keliru jika ada orang yang mengatakan, “Saya sudah rajin salat, kok belum kaya raya juga. Sementara mereka, orang-orang yang tidak pernah salat, ngaji, dan puasa kok kaya, rezeki mengalir terus dan lancar.” Karena persoalannya, tidak ada korelasi positif antara kaya dan salat. Untuk meraih kekayaan, jalannya adalah dengan giat bekerja, tekun, disiplin, dan tidak putus asa. Syarat-syarat inilah yang akan membuahkan kekayaan, sedangkan salat itu buahnya kedamaian jiwa, pencerahan spiritual, keberkahan hidup, dan pahala yang akan didapat di akhirat kelak.

Sehingga substansi makna takwa itu secara global mempunyai dua dimensi: dimensi pertama berkaitan dengan kehidupan duniawi dan dimensi kedua berkaitan dengan kehidupan ukhrawi. Orang-orang zalim, ahli maksiat, dan “kafir” yang hidupnya senang, makmur, kaya, dan menikmati kemajuan dalam bidang sains dan teknologi misalnya, karena mereka sudah melaksanakan dimensi syarat-syarat takwa yang pertama; Mereka telah selaras mengikuti sunnatullah, hukum-hukum kausalitas yang sudah Allah titahkan di dunia yang tidak bisa di ubah.

Keniscayaan hukum-hukum Allah ini ditegaskan dalam Al-Quran sampai diulang dua kali; “Maka sekali-kali engkau tidak akan mendapatkan perubahan bagi sunnah Allah dan engkaupun tidak akan pernah mendapatkan penyimpangan pada sunnah Allah itu “ (QS. Faathir: 43).

Dua dimensi takwa ini analog dengan makna sifat Allah dalam Asmaul Husna yaitu sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahmim Allah. Dalam pengamatan Quraish Shihab, makna sifat Rahman adalah rahmat Allah yang sempurna kepada seluruh mahluk dan manusia tanpa memandang keyakinannya dan bersifat sementara di dunia ini menurut ukuran duniawi. Sedangkan makna sifat Rahim adalah rahmat Allah yang akan diberikan di akhirat kelak menurut norma-norma ukhrowi, yakni dengan memandang kepada keyakinan orangnya.

Dengan kata lain, sifat Rahman merupakan kasih Tuhan yang dapat diraih dengan ilmu pengetahuan seseorang (ilmu pengetahuan secara luas). Sedangkan sifat Rahim merupakan kasih Tuhan yang dapat diraih dengan keimanan seseorang. Di sini, ada korelasi positif antara sifat Rahim dengan keimanan dan sifat Rahman dengan pengetahuan. Sebab jika iman memberikan pedoman-pedoman normatif yang bersifat transendental kepada Tuhan sebagai Ar-Rahim, maka ilmu pengetahuan memberikan kecakapan-kecakapan operatif yang bersifat diskursif-rasional kepada alam semesta sehingga akan mendatangkan kasih Tuhan sebagai Ar-Rahman.

Dengan berbagai alasan ini, maka tidak berlebihan jika Allah dalam Al-Quran menegaskan bahwa Dia akan memuliakan golongan manusia yang menggabungkan iman dan ilmu di atas golongan lain. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujaadilah: 11).

Karena itu pesan moralnya, seorang Muslim sejati harus mengamalkan kedua dimensi takwa tersebut agar meraih kebahagiaan duniawi sekaligus ukhrawi, sebab iman memberi kita landasan ideologis-transendental yang kukuh dan ilmu pengetahuan melengkapi kita dengan kecakapan teknis-operasional yang tangguh.(*)

Falsafah Insya Allah

Oleh Zaprulkhan MSI Dosen STAIN Abdurrahman Siddik

Ketika Anda jatuh dalam kegagalan dan melesetnya janji yang Anda ikrarkan tanpa membawa nama Tuhan, masih mending jika Anda hanya mengalami kerugian seperti Nashruddin

NARUDDIN terkenal sebagai orang yang jenius, cerdas, ahli dalam strategi permainan hidup, dan mempunyai perhitungan yang jitu. Pada suatu hari dia berkata kepada istri tercinta akan pergi membajak sawahnya yang berada di dekat sungai dan segera pulang siang hari.

Istrinya yang merupakan wanita salihah, menasihati suaminya supaya tidak takabbur, “Kanda, ucapkanlah insya Allah jika engkau merencanakan sesuatu,”. Karena begitu percaya dengan kecerdasan dan perhitungannya yang selalu tepat, Nashruddin menjadi khilaf, “Apakah Allah menghendaki rencanaku atau tidak, itulah rencanaku”.

Ketika sedang asyik membajak sawah, tiba-tiba hujan turun dengan deras sekali. Air sungai meluap serta menghanyutkan keledai Nashruddin.

Sementara kerbaunya kendati tidak ikut hanyut oleh gelombang air sungai, namun salah satu kaki kerbau itu patah karena terseret arus air dan terbentur bebatuan. Nashruddin dengan terpaksa membajak sawahnya sendirian tanpa bergairah sama sekali.

Seharian penuh dia bekerja dengan penuh keletihan, namun hanya sepertiga bagian sawahnya yang dapat ia bajak. Ketika senja sudah tiba, ia bersiap-siap untuk pulang, ternyata baru tengah malam air sungai reda sehingga Nashruddin bisa pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup sekujur tubuh dan menggigil kedinginan.

Akhirnya dengan sangat letih dan tertatih-tatih Nashruddin sampai juga ke rumahnya. Ketika sampai di depan rumah dengan tenaga penghabisan ia mengetuk pintu. “Siapakah di sana?”, tanya istrinya dengan gelisah. “Insya Allah, aku adalah Nashruddin, suamimu”, jawabnya dengan acuh tak acuh.

Kisah kecil ini bukan hanya menjadi bunga tawa, tapi juga menjadi bahan untuk merajut makna. Apakah Anda pernah mengalami peristiwa seperti yang dialami oleh Nashruddin? Apakah Anda pernah bersandar pada perhitungan logika statistik pengetahuan Anda terhadap realita dan melupakan perhitungan Tuhan yang tak kasat mata? Pernahkah Anda berulang kali mengejar rencana Anda dengan berpijak pada seluruh kecerdasan otak, kehebatan strategi, dan kekuatan fisik Anda sambil mengabaikan hukum-hukum ketuhanan? Dan selalu berhasilkah Anda dalam setiap kebijakan yang Anda targetkan, tanpa mengucapkan insya Allah, jika Allah menghendaki?
Anda tidak perlu memberi jawaban terhadap pertanyaan ini, baik secara negatif maupun positif. Karena hampir dapat dipastikan

setiap kita tentu pernah mengalami realitas tersebut. Entah ketika akan melakukan kegiatan yang sangat penting apalagi mengerjakan sesuatu yang sepele, kita tentu saja pernah hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri dan mengesampingkan kebijaksanaan Tuhan.

Kalau begitu apakah kira-kira yang menyebabkan kita begitu sering melalaikan kekuasaan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dalam menggapai cita-cita dan impian yang kita dambakan? Mari kita eksplorasi tiga argumentasi analisis-deskriptip untuk menjawab persoalan ini.

Pertama, faktor kekuatan, baik kekuatan fikiran, intelektual, maupun finansial. Karena uang Anda banyak, Anda pergi ke swalayan untuk memastikan dapat membeli sesuatu yang Anda inginkan.

Tapi entah kenapa tiba-tiba di tengah jalan, Anda kecopetan. Uang Anda ludes dan Anda gagal mendapatkan barang impian Anda. Dengan kekuatan fisikal dan kejeniusan nalar yang Anda miliki, Anda targetkan untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, namun ternyata sasaran Anda meleset. Semua kekuatan ini tanpa Anda sadari telah menimbulkan kepongahan dalam diri Anda dan menafikan kekuatan Tuhan.

Kedua, faktor rutinitas. Betapa seringnya keseringan menjebak orang terjebak dalam lingkaran kelalaian terhadap Tuhan Sang Pencipta kebiasaan itu sendiri.

Kebiasaan Anda bangun jam lima subuh, sarapan pagi pukul tujuh, makan siang hari jam dua belas tepat dan kemudian ke tempat pembaringan malam hari pada jam sepuluh malam menyebabkan nama Tuhan tak terlintas sedikit pun dalam benak Anda. Padahal tahukah Anda, bila setiap kesibukan yang melalaikan Anda kepada Allah, tidak pernah keluar dari lingkaran kesibukan-Nya? Sadarkah Anda bahwa semua yang ada di kolong langit dan di bumi ini selalu meminta kepada-Nya, sehingga setiap waktu Dia dalam kesibukan? (QS Ar-Rahman :29).

Ketiga, faktor lemahnya kesadaran transendental. Satu di antara kelemahan manusia yang paling dominan adalah ketidakmampuannya dalam melihat cara kerja Tuhan, invisible hand, di tengah-tengah kehidupan mereka.

Padahal segenap semesta berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, tak terkecuali diri Anda. Simak
firman-Nya, “Tidak ada satu makhluk pun yang melata kecuali Dia memegang ubun-ubunnya” (QS Huud: 56).

Gagasan implikatifnya begini: setiap tindakan yang belum Anda jalani, di sana ada semesta rahasia Ilahi bagi Anda.

Segala rencana yang sudah pasti dalam benak Anda, sesungguhnya mengandung sejuta ketidakpastian di dalamnya. Setiap jengkal langkah kaki yang belum Anda lalui, selalu ada unsur enigmatic dan unpredictable-nya, penuh teka-teki dan tidak dapat diramalkan secara pasti. Bahkan dalam setiap tarikan nafas Anda, menyimpan noktah-noktah keajaiban hidup dan misteri takdir Anda.

Pada tatanan inilah, ketika Anda jatuh dalam kegagalan dan melesetnya janji yang Anda ikrarkan tanpa membawa nama Tuhan, masih mending jika Anda hanya mengalami kerugian seperti Nashruddin yang kehilangan keledainya, kerbaunya patah kaki dan kelaparan sampai malam hari.

Tapi bagaimana jika Anda kehilangan harga diri di depan keluarga, dan masyarakat Anda? Bagaimana seandainya kepercayaan dan reputasi Anda jatuh di hadapan para karyawan dan orang-orang kepercayaan Anda, bahkan dihadapan dunia? Karena itu, bersikap rendah hatilah pada setiap kegiatan yang akan Anda tunaikan.

Sadarilah kelemahan, kekurangan, dan ketidakberdayaan Anda serta akuilah kekuatan, kesempurnaan, dan keperkasaan Allah. Alangkah bijaknya jika dalam setiap dimensi kehidupan yang akan Anda lalui, Anda senantiasa bersandar kepada Allah dengan melafazkan sekaligus menyakini kalimat: Insya Allah, jika Allah menghendaki. (*)

bangkapos.cetak