Abad ke-20 ditandai dengan penyamarataan "budaya MacWorld" dan hasrat komunitas-komunitas lokal untuk mewujudkan identitas khas antara kekuatan-kekuatan pemersatu globalisasi di satu pihak dan konflik semakin banyak pandangan hidup, religius, moral, ideologis yang tidak mau bersatu di pihak lain. Etika abad ke-20 tidak terlepas dari suasana konflik ini. Dalam kemajemukan posisi dan metodenya yang saling mengabaikan segala keyakinan atau visi inti yang mempersatukan tampak sudah hancur. Buku ini memperkenalkan pemikiran 12 tokoh etika abad ke-20 untuk menunjukkan adanya kemajemukan. Sasaran: pembaca yang tertarik untuk memahami 'drama' perjuangan intelektual di belakang kejadian-kejadian dramatis abad ke-20.
Tampilkan postingan dengan label magnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label magnis. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Maret 2010
Pustaka Filsafat 12 TOKOH ETIKA ABAD KE-20
Abad ke-20 ditandai dengan penyamarataan "budaya MacWorld" dan hasrat komunitas-komunitas lokal untuk mewujudkan identitas khas antara kekuatan-kekuatan pemersatu globalisasi di satu pihak dan konflik semakin banyak pandangan hidup, religius, moral, ideologis yang tidak mau bersatu di pihak lain. Etika abad ke-20 tidak terlepas dari suasana konflik ini. Dalam kemajemukan posisi dan metodenya yang saling mengabaikan segala keyakinan atau visi inti yang mempersatukan tampak sudah hancur. Buku ini memperkenalkan pemikiran 12 tokoh etika abad ke-20 untuk menunjukkan adanya kemajemukan. Sasaran: pembaca yang tertarik untuk memahami 'drama' perjuangan intelektual di belakang kejadian-kejadian dramatis abad ke-20.
Pustaka Filsafat ETIKA DASAR, Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral
Buku ini berbicara tentang masalah-masalah pokok filsafat moral dewasa ini, seperti: apa kebebasan dan apa kaitannya dengan tanggung jawab? Apakah suara hati itu, dan dapatkah suara hati itu dipertanggung jawabkan? Keputusan moral yang bagaimanakah yang memadai? Buku ini bukan sekedar buku kuliah, tetapi diharap dapat memberi manfaat lebih banyak, yakni membentuk pribadi yang mampu mengambil sikap pada setiap situasi.
Pustaka Filsafat 13 MODEL PENDEKATAN ETIKA, Bunga Rampai Teks-Teks Etika dari Plato sampai dengan Nietzsche
Untuk mendalami pemikiran para tokoh filsafat, Anda semestinya tidak akan puas hanya membaca 'tentang' para tokoh filsafat. Buku ini akan membantu Anda lebih mengenal para tokoh filsafat melalui tulisan-tulisan yang dibuat dengan gaya dan nada yang khas dari masing-masing tokoh. Dalam buku ini Anda akan dapat membaca teks-teks terpenting dari 13 tokoh terbesar etika mulai dari Plato sampai dengan Friedrich Nietzsche.
MENCARI MAKNA KEBANGSAAN
Mencari makna kebangsaan dari masyarakat pluralitik Indonesia tentu saja tidak mudah. Perlu usaha lebih keras untuk menghindari kesalahan pendekatan, kesediaan untuk belajar dari pengalaman, tekad untuk tetap terbuka, serta mau menerima semua warga masyarakat sebagai warga negara yang sama hak dan kewajibannya. Franz Magnis-Suseno yang dikenal berpemikiran tajam dan to the point, menanggapi pelbagai masalah yang pernah aktual (dan kini tetap aktual), yang menyentuh berbagai sendi kehidupan bangsa, seperti agama, hukum, sosial budaya, politik, etika, HAM, dan lain sebagainya. Meskipun ketiga puluh delapan karangan ditulis dalam situasi konkret tertentu, namun tetap merupakan sumbangan berharga untuk berefleksi dalam usaha kita bersama mencari makna dan pesan kebangsaan Indonesia dalam situasi yang memprihatinkan. Dengan membaca buku ini diharapkan dapat merangsang pikiran, refleksi, keprihatinan, dan tekad pembaca berhadapan dengan masalah-masalah bangsa.
Filsafat Sebagai Ilmu Kritis
Berisi lima belas karangan, semuanya terfokus pada filsafat yang kritis. Dimulai dengan membahas filsafat dan etika dalam kaitannya dengan ideologi dan politik, kemudia dilanjutkan dengan pendeskripsian sifat kritis para filsuf besar hingga mereka mampu mengubah dunia.
Menalar Tuhan - Filsafat Berhadapan dengan Tuhan
Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat tertinggi filsafat sampai 200 tahun lalu. Di permulaan abad 21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filsuf. Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan. Isinya bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan. Buku ini tidak mau "membuktikan" adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa di abad 21 pun manusia tetap dapat percaya kepada Tuhan tanpa harus menyangkal kejujuran intelektualnya.
Resensi
oleh: Theodorus Egep Henakin
Manusia akan selalu berpikir dan terus berpikir tentang keberadaan Tuhan. Apakah Tuhan hadir atau tidak?. Keingintahuan manusia tidak akan pernah terbatas meskipun segala pengetahuan akan terbatas. Menalar Tuhan merupakan buku kajian filsafat yang menuliskan tentang berbagai macam sudut pandang tentang keberadaan Tuhan. Buku ini tidak mau membuktikan adanya Tuhan atau tidak melainkan bahwa manusia harus tetap dapat percaya kepada tuhan tanpa harus menyangkal dengan kemampuan intelektual yang dimilki oleh manusia. Buku ini berisi tentang hubungan antara Tuhan dengan manusia sampai sejauh mana. Isi buku ini juga menunjukkan bagaimana pandangan aliran-aliran agama yang mencoba untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan. Banyak pandangan yang disampaikan tentang keberadaan Tuhan misalnya ateisme, deisme, monoteisme, skeptisisme, politeism, dualisme, monisme, panteisme dan sebagainya. Buku ini juga berisi tentang bagaimana manusia bisa sampai ke jalan Tuhan misalnya bagaimana manusia berindak menggunakan hati nurani, suara hati. Dalam dunia fisafat, buku ini membantu mereka yang ingin belajar untuk memahami Tuhan secara lebih mendalam. Buku ini ditulis oleh guru besar oleh romo Franz Magnis- Suseno SJ. Beliau adalah seorang guru besar Filsafat di Sekolah Tingi Filsafat Driyakara. Buku ini tentang filsafat di mana Tuhan menjadi objeknya. Franz Magnis-Suseno SJ bermaksud mengajak kita sebagai manusia modern untuk mempertanggunjawabkan iman yang kita anut secara rasional. Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan. Hal itu sangat menarik sekali karena kita sebagai manusia dituntut untuk mempertanggungjawabkan iman kita sampai sejauh mana bisa mempertahankannya.. Bahasa yang digunakan buku ini memang cukup berat dan sulit untuk dipahami. Buku ini sangat cocok bagi mereka yang ingin belajar filsafat ketuhanan terutama bagi kaum religius. Buku ini kurang cocok jika dibaca oleh para pelajar yang masih berusia dibawah 17 tahun atau yang belum mampu untuk memahami isi buku ini.. Pada kenyataannya jika kita ingin membaca buku ini, kita harus membutuhkan konsentrasi yang kuat sehingga bisa memahami isi dari buku ini. Sebagai manusia yang ingin terus berkembang hendaknya kita tetap percaya akan kebesaran Tuhan dimana kita bertindak. Tuhan pun akan menunjukkan kebesarannya dimana kita percaya pada kuasa-Nya. Tuhan akan selalu menyertai manusia di mana manusia membutuhkan kehadiran-Nya. Tuhan mempunyai rencana pada diri manusia masing-masing, hendaknya manusia mampu mengolahnya.
Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme
Dalam buku ini Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, seorang ahli filsafat sosial, menjelaskan pokok-pokok pikiran Karl Marx secara obyektif dan kritis. Setelah mengemukakan bentuk-bentuk sosialisme "utopis" yang mendahului Marx, ia kemudian menelusuri perkembangan dalam pemikiran Marx: dari paham Marx muda tentang peran filsafat kritis dan keterasingan manusia sampai terbentuknya teori tentang hukum-hukum yang mendasari perubahan masyarakat dan kritik terhadap kapitalisme. Selanjutnya ia juga menggariskan kembali bagaimana ajaran Marx manjadi "Marxisme", ideologi perjuangan kaum buruh, serta memperkenalkan aliran-aliran terpenting dalam Marxisme.
Kuasa dan Moral
Sebagai filosof sosial dan ahli etika pilitik, Franz Magnis-Suseno memaparkan dengan gamblang, bahwa setiap usaha untuk memisahkan kekuasaan dan moralitas akan menggerogoti dan kekuasaan itu dari dalam. Kekuasaan akan stabil kalau sah secara moral. Di tengah politik uang dan politik teror, buku ini bagai cermmin yang memantulkan ironi-ironi wajah bopeng kekuasaan, yang menggugah kesadaran kita untuk selalu kritis terhadap kekuasaan politik yang mengitari hidup kita.
Etika Politik Prinsip-prinsip Dasar Kenegaraan Modern
Dalam delapan belas bab buku ini Dr. Franz Magnis-Suseno membahas masalah-masalah metode, legitimasi, hukum dan negara, positivisme hukum, hak asasi manusia dan kebebasan suara hati, wewenang nagara dan batas-batasnya, demokrasi, tanggung jawab sosial negara, hal ideologi, bersamaan dengan fikiran tokoh-tokoh filsafat politik seperti Aquinas, Hobbes, Locke, Rousseau, Hegel, dan Marx. Buku ini akan membantu Anda memahami masalah-masalah ideologis secara kritis berdasarkan argumen-argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.
Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa
Etika Jawa mencerminkan nilai-nilai manusiawi, yang pantas menjadi salah satu pedoman alternatif menghadapi tantangan modernisasi. sebuah corak etika Barat, karena memiliki gambaran yang khas tentang manusia, pribadi, masyarakat, serta alam semesta. Buku ini merupakan bacaaan yang sangat memebantu Anda, baik yang berasal dari Jawa maupun bukan, untuk memahami tingkah laku, kebijaksanaan, dan cita-cita orang Jawa.
Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles
Menjadi manusia utuh, disadari atau tidak, menjadi cita-cita kita, manusia. Di kiri kanan kita menjumpai manusia-manusia yang bengkok, miring, berat sebelah, aneh, setengah lumpuh. Dan tidak utuh. Lebih mengkhawatirkan lagi, kita tahu bahwa kita sendiri terancam oleh kemiringan itu, bahwa kita sendiri sering lumpuh secara fisik atau jiwani, bahwa hidup kita jauh di bawah kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya terbuka bagi kita. Kita tidak utuh.
Aristoteles persis menawarkan itu: Jalan untuk menjadi utuh. Barangkali kita ragu apakah seorang pemikir yang hidup lebih dari 2300 tahun lalu masih dapat menunjukkan suatu jalan bagi kita, manusia abad ke-21. Tetapi Aristoteles, bersama Plato, sampai hari ini menjadi acuan pemikiran para filosof.
Buku kecil ini memperkenalkan pemikiran Aristoteles, khususnya dalam bidang moralitas dalam bahasa yang tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Kedua, etika Aristoteles di zaman sekarang pun amat bermanfaat bagi kita. Aristoteles menulis etikanya agar mereka yang membacanya dapat membangun suatu kehidupan yang bermakna dan bahagia.
Dan itu dicapai dengan memperlihatkan bagaimana manusia dapat mengembangkan diri, dapat membuat potensi-potensinya menjadi nyata, dan bagaimana karena itu ia menjadi pribadi kuat. Menjadi pribadi kuat berarti berhasil dalam kehidupan sebagai manusia. Itulah yang membuat kita bahagia dan itulah yang mau ditunjuk oleh Aristoteles.
Langganan:
Postingan (Atom)