Oleh: Zaprulkhan MSI, Dosen Tetap STAIN Abdurrahman Siddik
AKIDAH merupakan komponen psikologis, bukan uraian teoritis. Akidah tidak membahas sesuatu, melainkan mengarahkan perilaku, pendorong tindakan, dan pembangkit aktivitas yang menyatukan niat dan mengejawantahkan tujuan. Hari ini, titik sentral perhatian ilmu tauhid telah berubah: dari sifat Tuhan dan perbuatan-Nya menuju bumi kaum Muslim dan sumber kekayaannya, kemerdekaan, peradaban, dan kesatuan mereka. Itulah yang dinamakan tauhid yang dinamis, tauhid yang hidup, yakni mengubah realitas menjelma sesuatu yang ideal, dan mengubah sesuatu yang ideal menjelma sesuatu yang membumi.
Statemen di atas digulirkan oleh Hassan Hanafi, salah seorang ilmuwan besar Muslim yang hidup di Mesir, dalam Min al-Aqidah ila al-Tsawrah, Dari Akidah Menuju Revolusi. Frase tersebut mencerminkan kegelisahan Hanafi terhadap spektrum pemikiran Islam yang telah terlalu lama mengalami stagnasi. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Hanafi menawarkan sebuah proyek pembaruan holistik di bawah payung at-Turats wa at-Tajdid, Tradisi dan Modernisasi dengan tiga agenda utama yang saling berinteraksi secara dialektis.
Pertama, melakukan rekonstruksi tradisi Islam dengan interpretasi kritis dan kritik sejarah yang tercermin dalam agenda apresiasi kita terhadap khazanah klasik (mawqifuna min at-turats al-qadim). Kedua, menetapkan kembali batas-batas kultural Barat melalui pendekatan kritis yang mencerminkan sikap kita terhadap peradaban Barat (mawqifuna min al-gharb). Ketiga, upaya membangun pembacaan kontekstual-fungsional terhadap Al-Quran yang mampu membebaskan umat Islam dari keterpurukannya yang merefleksikan sikap kita terhadap realitas (mawqifuna min al-waqi’).
Berhubungan dengan agenda pertama, Hanafi melakukan dekonstruksi sekaligus rekonstruksi terhadap teologi klasik yang dipelopori oleh Imam Asy’ari. Secara historis-sosiologis, Asy’ari telah melakukan ijtihad dengan mengkonstruksi akidah, misalnya sifat duapuluh. Jadi akidah tersebut merupakan kreasi kreatif Asy’ari dalam menghadapi tantangan zaman berupa pemikiran Hellenisme yang bercorak ateistik, menafikan Tuhan dalam realitas kehidupan umat manusia. Itulah alasannya semua formulasi akidah Asy’ari bermuara ketuhanan, melangit, dan spiritual, sehingga teologi Asy’ariyah disebut juga dengan teologi teosentrisme.
Pada konteks historis era klasik, tentu saja Asy’ari sangat berjasa, sebab ia telah menyelamatkan keyakinan sebagian kaum Muslim yang tengah gelisah digempur falsafah Hellenisme yang menafikan Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia. Secara individual, dalam bilik-bilik spiritual kehidupan seorang Muslim, teologi Asy’ari tetap relevan untuk memperkokoh keyakinan terhadap eksistensi Tuhan. Namun dalam konteks hari ini secara praksis-sosial, relevansi teologi teosentrisme Asy’ari ini mulai dipertanyakan.
Dalam perspektif Hanafi, teologi klasik di atas tidak lagi membumi sehingga ia mengajukan teologi yang bercorak antroposentrisme. Tujuannya untuk menjadikan teologi tidak sekadar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia. Karena itulah, gagasan-gagasan Hanafi berusaha mentransformasikan teologi tradisional yang bersifat teosentris menuju antroposentris, dari Tuhan menuju manusia (bumi), dari tekstual kepada kontekstual, dari teori kepada tindakan, dan dari takdir menuju kehendak bebas.
Berikut ini akan dipaparkan operasionalisasi teologi antroposentrisme Hanafi terhadap sifat-sifat Tuhan, seperti Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatul lil Hawadits, Qiyamuh binafsih, dan wahdaniyah. Wujud, menurut Hanafi, tidak lagi menjelaskan wujud Tuhan, karena Tuhan tidak memerlukan pengakuan. Tanpa manusia, Tuhan tetap wujud. Makna rekonstruktif wujud di sini adalah tajribah wujudiyah pada manusia, yakni tuntutan pada umat Islam untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya di tengah-tengah percaturan global.
Qidam, berarti pengalaman kesejarahan yang mengacu pada akar-akar keberadaan manusia di dalam sejarah. Qidam merupakan modal pengalaman dan pengetahuan kesejarahan yang digunakan untuk menatap realitas dan masa depan, sehingga tidak akan terjatuh lagi dalam kesesatan, taqlid buta, dan kesalahan. Sedangkan Baqa’, bermakna tuntutan pada manusia untuk membuat dirinya tidak cepat rusak atau fana, dengan memperbanyak melakukan hal-hal yang konstruktif dalam perbuatan maupun pemikiran, dan menjauhi tindakan yang bisa
mempercepat kerusakan di muka bumi. Dengan kata lain, baqa’ adalah ajakan pada manusia untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan dan alam, serta ajakan agar manusia mampu meninggalkan karya-karya besar yang bersifat monumental.
Selanjutnya mukhalafatul lil Hadits, berbeda dengan yang lain, bermakna tuntutan agar umat manusia mampu menunjukkan esistensinaya secara mandiri dan berani tampil beda, tidak mengekor atau taqlid pada pemikiran dan budaya orang lain. Qiyamuh binafsih adalah deskripsi tentang titik pijak dan gerakan yang dilakukan secara terencana dan dengan penuh kesadaran untuk mencapai sebuah tujuan akhir, sesuai dengan segala potensi dan kemampuan diri.
Begitupun Wahdaniyah, bermakna keesaan, bukan merujuk pada keesaan Tuhan dari kegandaan (syirk) yang diarahkan pada paham tinitas ataupun politheisme, tetapi lebih mengarah pada ekperimentasi kemanusiaan.
Wahdaniyah adalah pengamalan umum kemanusiaan tentang kesatuan; kesatuan tujuan, kesatuan kelas, kesatuan nasib, kesatuan tanah air, kesatuan kebusdayaan dan kesatuan kemanusiaan.
Melalui pembacaan teologi antroposentris ini, sekali lagi Hanafi bukan bermaksud menafikan teologi klasik yang bercorak teosentris. Ia tetap menghargai teologi teosentris tersebut, namun Hanafi juga ingin melampauinya dengan pemaknaan baru yang lebih kontekstual-fungsional dan kompatibel dengan kebutuhan kaum Muslim hari ini dalam menghadapi pelbagai masalah aktual kemanusiaan, seperti kebodohan, imperialisme, kemiskinan, keterbelakangan, demokrasi, kemajuan, dan keadilan. Terlebih lagi dalam tataran akademik di perguruan tinggi, kaum intelektual, ilmuwan, dan cendekiawan semestinya mampu melakukan pembacaan baru terhadap teologi Islam sehingga mampu menjawab puspa ragam problematika kaum Muslim secara konkrit.
Pada titik inilah, fungsi paling signifikan teologi, dalam pandangan Hanafi, adalah memerangi kebodohan, kepapaan, kejumudan, dan keterbelakangan umat Islam terutama kelompok ekonomi yang lemah dalam strata sosial sehingga bisa mengubah kondisi mereka dari stagnan menuju dinamis, dari bawahan menjadi pemimpin, dari yang terlupakan menjelma sang panglima peradaban. Inilah yang dinamakan oleh Hanafi sebagai tauhid yang praktis, tauhid yang dinamis, tauhid yang hidup. Itulah yang dinamakan akidah yang revolusioner.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar